Ayat Kursi 7x,Surah Yasin,Ar Rahman,Al Waqiah,Al Mulk,Al Kahfi,Ikhlas,Falaq,An Nas By Saad Al Ghamdi
Dengan membaca kita bisa menambah ilmu dan pengalaman hidup. Gunakan waktumu dengan baik. Terima kasih sudah membaca.
RESEP PENTOL BAKSO 👇
Untuk menghubungkan antara halaman web, kamu bisa menggunakan tag < a > disertai atribut href yang ditujukan ke halaman tujuan.
Contoh:
<a href="kontak.html">Hubungi Kami</a>Jika kamu ingin memberikan link untuk mengunduh file (seperti dokumen PDF), kamu bisa melakukannya dengan cara berikut:
<a href="dokumen.pdf"download>Unduh Dokumen </a>Untuk melihat file tanpa mendownload-nya, cukup hilangkan atribut download:
<a href="dokumen.pdf" >Lihat Dokumen</a>Untuk membuat link HTML yang memungkinkan pengunjung mengirim e-mail, kamu bisa menggunakan protokol mailto dalam tag anchor ( < a >). Berikut contohnya:
<a href="mailto:info@example.com">Kirim Email ke Kami</a>Ketika pengunjung mengeklik link ini, aplikasi e-mail default pada perangkat mereka akan terbuka dengan alamat e-mail "info@example.com" sudah terisi di kolom penerima.
Agar bisa membuka gambar dalam jendela atau tab baru, kamu bisa menggunakan atribut target="_blank".
Contoh:
<a href="gambar.jpg" target="_blank" >Lihat Gambar </a>Kamu juga bisa menambahkan link dalam elemen gambar, sehingga gambar itu menjadi clickable (bisa diklik).
Contoh:
<a href="produk.html">
<img src="produk.jpg" alt="Lihat Produk Kami">
</a>Atribut title digunakan dalam link untuk memberikan informasi tambahan tentang link tersebut. Saat pengunjung mengarahkan kursor ke link, teks dari atribut title akan muncul sebagai tooltip. Contoh penggunaannya sebagai berikut:
<a href="produk.html" title="Lihat detail produk kami" >Produk</a>Penggunaan atribut title dapat meningkatkan aksesibilitas dan user experience, memberikan konteks tambahan tentang tujuan link.
Di sisi lain, atribut alt sangat penting dalam elemen gambar HTML. Atribut ini menyediakan teks alternatif yang akan ditampilkan jika gambar gagal dimuat. Contoh penggunaannya:
<img src="produk.jpg" alt="Gambar Produk Kami">Atribut alt bukan hanya tentang aksesibilitas untuk pengunjung yang menggunakan pembaca layar atau browser teks; atribut ini juga sangat penting dalam SEO karena mesin pencari menggunakan alt.
Penggunaan atribut title dan alt yang tepat berkontribusi pada aksesibilitas dan relevansi konten. Pada gilirannya, proses ini berdampak positif pada peringkat SEO website-mu.
Untuk mengatur style link seperti wana, ukuran font, dan lainnya, kamu bisa menggunakan CSS. Contoh: a { color: blue; }.
Kamu juga bisa menggunakan pseudo-class seperti :visited untuk mengubah tampilan link yang telah dikunjungi. Contoh untuk mengubah warna link menjadi biru: a { color: blue; } dan untuk link yang telah dikunjungi: a:visited { color: purple; }.
Ya, kamu bisa menggunakan link HTML untuk mengarahkan pengguna ke profil media sosial atau konten lainnya.
Contoh:
<a href ="https://www.facebook.com/profilku">Facebook</a>
Setelah bertahun-tahun, baru sadar ada satu langkah yang perlu dilakukan untuk menginstall file berekstensi .run dan .bin di linux (Ubuntu dan derivatifnya) #tepokjidat. Untuk itu, tulisan yang ini juga perlu saya tambahkan satu baris perintah lagi.
Langsung saja :
1. Buka Terminal
2. Gunakan perintah :
$sudo chmod +x nama-file.run
3. Tinggal jalankan dengan perintah :
$sudo ./nama-file.run
Selain menggunakan Terminal, bisa juga menggunakan cara :
1. Klik kanan nama-file.run yang akan dieksekusi
2. Pilih “Properties”
3. Klik Tab “Permission” di jendela “Properties” yang muncul
4. Klik atau centang “Allow executing file as program”
5. Untuk mengeksekusinya, klik dua kali file .run atau .bin tersebut. Jika tidak berhasil, klik kanan dan pilih “Run in Terminal“.
Demikian.
Layanan IP TelephonyKomponen VoIP
- Melihat tagihan (billing)
- Melihat CDR (Call Data Record)
- Konfigurasi pribadi (profiling)
- VoIP Discount
- Voxee
- SIPphone

Tahapan Membangun
Tahap Pelaksanaan
- Lakukan pengujian sendiri (tim)
- Lakukan bersama calon pengguna
Megapixel
Semakin besar Megapixel suatu kamera, maka akan semakin bagus kualitas gambarnya. Ini adalah Mitos terbesar di dalam dunia kamera, dan itu sepenuhnya tidaklah benar. Perusahaan-perusahaan kamera dan toko-toko kamera sebetulnya jelas mengetahui hal ini, tapi mereka terus saja berusaha untuk mempertahankan persepsi yang salah ini, bukan hanya mempertahankan malah, tapi mereka justru terus berusaha untuk menancapkan hal ini ke benak customer. Kenapa ?
Karena hal inilah yang menyebabkan perusahaan-perusahaan dan toko-toko itu dapat meraih keuntungan besar. Cukup dengan menambah jumlah pixelnya, tanpa perubahan lain yang lebih berarti, mereka dapat menciptakan kamera tipe baru, dan para customer yang tertipu pada berlomba-lomba untuk meng “upgrade” kameranya.
Padahal, penting sekali untuk DIINGAT, semakin tinggi Megapixelnya, bila tidak disertai dengan perubahan ukuran sensor, perubahan arsitektur kamera atau perubahan kualitas lensa, maka kualitas gambar dari kamera tersebut justru lebih jelek.
Jadi fungsi dari megapixel yang besar itu sebetulnya apa ? Kuncinya adalah pada masalah “Perbesaran”. Semakin besar resolusi suatu kamera (megapixel), maka kita dapat mencetak foto kita dengan ukuran yang lebih besar.
Tapi permasalahannya, kebutuhan rata-rata orang awam, paling hanya mencetak di ukuran 4R atau 10R saja, yang dapat dilakukan dengan sangat baik oleh kamera dengan resolusi 4 Megapixel. Pada gambar 1 adalah table untuk ukuran cetak.
Selain masalah perbesaran cetak, resolusi besar juga dapat berguna bila kita sering melakukan CROP pada Foto kita.
Jadi, bila Anda bukan lah pengguna yang sering melakukan cetak besar atau sering melakukan cropping, kamera dengan 6 Megapixel sudah lebih dari cukup.
Image Stabilizer
Tiap merk kamera menggunakan istilah yang berbeda-beda untuk fitur yang satu ini. Ada Image Stabilizer, Vibrate Reduction, Anti Shake, Steady Shot, Optical Image Stabilizer(OIS), Vibrate Compensation, dan lain sebagainya. Itu semua fungsinya sama, yaitu untuk menyetabilkan goncangan tangan kita.
Sering terjadi salah kaprah di dalam pengertian tentang fitur yang satu ini. Salah kaprah yang sering terjadi adalah tertukarnya pengertian antara Shutter Speed dan Image Stabilizer. Ketika kita memfoto anak-anak yang sedang berlari-lari, kalau kita ingin agar anak yang kita foto itu tetap terlihat tajam (tidak blur), kita harus menggunakan Shutter Speed yang cepat, dan tidak ada hubungannya dengan Image Stabilizer. Shutter Speed yang cepat berguna untuk membekukan “Objek” yang kita foto, sedangkan Image Stabilizer berguna untuk menyetabilkan goncangan dari “Subjek” yang memfoto.
Jadi Image Stabilizer ini akan berguna ketika :
- Tangan kita sulit untuk tidak bergerak ketika melakukan pengambilan foto atau tangan kita tremor
- Melakukan pemotretan dengan Shutter Speed yang rendah (indoor, malam hari, efek-efek cahaya bergerak, foto air terjun, dsb)
- Melakukan foto-foto dengan lensa tele (jarak jauh) misalnya 200 mm
- Melakukan foto-foto macro (jarak yang sangat dekat)
Cara kerja fitur ini adalah dengan menempatkan sensor pada lensa atau pada sensor (masing-masing produsen berbeda-beda). Sensor ini berfungsi untuk mendeteksi gerakan lensa atau kamera. Misal pada Image Stabilizer yg diletakkan di lensa, ketika kamera kita bergerak ke atas, sensor ini akan menggerakan lensa nya ke bawah, ketika kamera kita bergerak ke kiri, sensor ini akan menggerakan lensanya ke kanan, dan demikian seterusnya sehingga gambar yang kita buat akan selalu diusahakn stabil dan bebas goncangan.
Nah setelah mengetahui pengertian dari Image Stabilizer ini, kita juga dapat mengetahui tentang produsen-produsen yang nakal, yang dengan sengaja memanfaatkan kesalahkaprahan konsumen akan pengertian ini untuk menarik keuntungan.
Ada beberapa produsen yang jelas-jelas tidak memiliki teknologi Image Stabilizer ini, tapi berani mencantumkan Slogan yang serupa dan bahkan mempromosikan fitur ini melalui brosur-brosur dan sarana marketing mereka.
Atau ada juga yang sudah memiliki teknologi ini, tapi karena untuk dipasangkan pada kamera-kamera yang low end tidak akan memungkinkan dari segi harga, akhirnya mereka menciptakan istilah-istilah yang mirip tapi sebetulnya adalah tipuan, seperti misalnya Anti Shake DSP, New Anti Shake AE, dll.
Ada juga yang memang memiliki teknologi ini dan sudah memasangkan pada kameranya, tapi karena pesaing mereka mencoba membodohi konsumen, maka mereka pun ikut-ikutan juga membodohi konsumen dengan istilah-istilah yang lebih keren seperti misalnya Double Anti Blur, 4x Image Stabilization, Dual IS, dsb.
Image Stabilizer-image stabilizer palsu ini cara kerjanya adalah hanya menaikkan settingan ISO pada kamera saja. Sehingga otomatis Shutter Speed yang kita dapatkan akan lebih cepat dan karena itu dapat juga mengurangi goncangan (objek dan subjek sekaligus).
Tapi untuk fasilitas ini ada harga yang harus dibayar, yaitu kualitas gambar yang akan sangat berkurang. Karena ISO semakin tinggi maka kualitas foto akan semakin noise, banyak terdapat bintik-bintik warna-warni, tidak tajam dan sebagainya, intinya gambar akan terlihat lebih kasar.
Selain itu ada juga kelemahan lainnya, kita jadi tidak bisa melakukan pemotretan dimana kita ingin menggunakan speed yang rendah, seperti misalnya foto air terjun sehingga airnya bisa jadi seperti kapas. Dan masih ada kekurangan-kekurangan lainnya. Tetapi sebetulnya, yang paling konyol dari image stabilizer palsu ini adalah, hampir semua kamera bisa melakukan hal itu, tinggal dinaikkan aja ISOnya. Sungguh menggelikan.
Pada istilah-istilah seperti Double Anti Blur, 4x Image Stabilization, Dual IS, dan sebagainya maksudnya adalah bahwa mereka menggunakan Image stabilizer betulan dan sekaligus Image stabilizer tipuan. Sehingga dengan istilah-istilah itu produk mereka akan terlihat lebih mampu menahan goncangan. Untungnya paling tidak sampai saat ini saya masih belum melihat ada yang menggunakan istilah Double atau Dual yang ternyata isinya tidak ada Image Stabilizer asli sama sekali. Mungkin sebentar lagi.